Jumat, 05 Agustus 2011

Einstein Masuk Islam


Einstein Ternyata Masuk Islam?
sumber : http://moeflich.wordpress.com/2011/01/12/einstein-ternyata-masuk-islam/#comment-13489
Kantor berita Iran IRIB (24/9) baru-baru ini melansir sebuah berita yang menyatakan bahwa ilmuwan Albert Einstein adalah seorang penganut ISLAM Syiah. Irib mengutip sebuah surat rahasia Albert Einstein, ilmuan Jerman penemu teori relatifitas itu, yang menunjukkan bahwa dirinya adalah penganut madzhab ISLAM tersebut.

Berdasarkan laporan situs Mouood.org, Einstein pada tahun 1954 dalam suratnya kepada Ayatollah Al-Udzma Sayid Hossein Boroujerdi, marji besar Syiah kala itu, menyatakan, “Setelah 40 kali menjalin kontak surat-menyurat dengan Anda (Ayatollah Boroujerdi), kini saya menerima agama Islam dan mazhab Syiah 12 Imam”.

Einstein dalam suratnya itu menjelaskan bahwa Islam lebih utama ketimbang seluruh agama-agama lain dan menyebutnya sebagai agama yang paling sempurna dan rasional. Ditegaskannya, “Jika seluruh dunia berusaha membuat saya kecewa terhadap keyakinan suci ini, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya walau hanya dengan membersitkan setitik keraguan kepada saya”.

Einstein dalam makalah terakhirnya bertajuk Die Erklarung (Deklarasi) yang ditulis pada tahun 1954 di Amerika Serikat dalam bahasa Jerman menelaah teori relatifitas lewat ayat-ayat Al-Quran dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib as dalam kitab Nahjul Balaghah.

Dalam makalahnya itu, Einstein menyebut penjelasan Imam Ali as tentang perjalanan miraj jasmani Rasulullah ke langit dan alam malakut yang hanya dilakukan dalam beberapa detik sebagai penjelasan Imam Ali as yang paling bernilai.(eramuslim)

Pengecoran Bagian Timur Lingkaran Kubah

Pembangunan Masjid Al-Ikhlas kembali dilanjutkan dengan di laksanakannya pengecoran sebelah timur lingkaran kubah masjid pada tanggal 17 Juli 2011.

Rabu, 22 Juni 2011

Berita Duka

Assalamualaikum Wr. Wb.
Innalillahi wainna ilaihi rojiun, telah berpulang ke rahmatullah Ibu Robiatun binti sholihan (ibunda dari bp. Makmur Harjanto, salah seorang pengurus majid Al-Iklhas Perumahan Puri Harapan), pada hari Rabu tnggal 22 Juni 2011 pkl. 05.00 pagi di Desa Sidoharjo, Kecamatan Sruweng, Kabupaten Kebumen. pada usia 78 tahun. Almarhumah meninggalkan Suami dan anak-anak.
Kami segenap pengurus masjid Al-Ikhlas turut berduka cita yang sedalam-dalamnya.
Kepada warga Puri Harapan khususnya dan kepada Muslimin dan Muslimat mohon doanya mudah-mudahan Almarhumah di terima di sisi Allah dan di ampuni semua kesalahan-nya. Amin ya robbal alamin.

Wassalam
Hasan Fauzi
(Ketua DKM)

Foto Makmur Harjanto (Putra Almarhumah) ketika melaksanakan Kerja Bakti Pengecoran Mimbar Masjid Al-Ikhlas pada hari minggu tanggal 20 Juni 2011.

Minggu, 19 Juni 2011

Pengecoran Mimbar / Pengimaman

Puri Harapan, Setia Asih, Bekasi, Minggu, 19 Juni 2011 - Panitia Pembangunan Masjid Jami Al-Ikhlas beserta masyarakat Muslim Perumahan Puri Harapan Desa Setia Asih Kecamatan Taruma Jaya, Bekasi melaksanakan Kerja Bakti Pengecoran Bagian Sebelah Barat Masjid atau Mimbar tempat Imam / Khatib.
Di komandoi Kepala Seksi Pembangunan bapak Bachtiar Efendi, Kerja bakti di mulai pagi hari sekitar jam 8.15, dengan semangat yang menggebu Para tukang dan warga yang membantu masing-masing tugasnya mulai dari : Mengisi air di Tong untuk persiapan pengecoran, Mengangkat Semen, Pasir, Batu Split ke mesin Molen menumpahkan adukan semen yang sudah matang dari Molen, mengisi adukan ke ember dan mengangkat adukan dan menuangkan ke lantai atas tempat pengecoran, sampai mengembalikan ember kosong ke bawah, terlihat warga dan para tukang sangat kompak sambil selingi gurauan ringan.
Diiringi lagu-lagu salawat dan konsumsi yang di berikan oleh ibu-ibu makin menambah semangat kerja bakti tersebut.
Sekitar pukul 11.00 Pak Hendra mengumumkan bahwa Konsumsi untuk makan siang sudah siap, pekerjan di istirahatkan sebentar untuk makan siang bersama.
Pukul 11.45 Pak Umar Taher mengumumkan bahwa sebentar lagi masuk waktu zuhur. Kembali Pak Hendra mengumumkan bahwa pakaian shalat sudah disiapkan panitia diharapkan warga tidak pulang untuk shalat dirumah tapi shalat zuhur berjamaah di Masjid.
Pukul 12:30 Pak Hendra denga suaranya yang khas kembali mengumumkan bahwa pekerjaan dilanjutkan kembali, dengan sigap para pekerja mengambil posisi masing-masing.
Pekerjaan di lanjutkan hingga selesai pukul 14:00
Anggaran pengecoran tersebut di perkirakan lebih kurang Rp. 68.000.000,- namun angka pastinya menunggu laporan dari bendahara pembangunan Bp. Ahmad Shofi.
Pada hari itu total sumbangan yang masuk berupa Semen sebanyak 130 zak. ditambah uang cash dan konsumsi dari warga yang jumlahnya belum terhitung.
Hadir dan turut pada kerja bakti tersebut diantaranya : Bp. Ahmad Shofi selaku bendahara pembangunan, Bp. H. Rusli selaku seksi Dana Pembangunan, Bp. Zein Khotib Sie Keamanan RW 21, Bapak-bapak ketua RT dan Para Pengurus Masjid Alikhlas.
Kami Pengurus dan Seksi Pembangunan Masjid Al-Ikhlas Perumahan Puri Harapan Mengucapkan banyak terima kasih kepada bapak-bapak dan ibu-ibu yang membantu kerja bakti tersebut dan para donatur, mudah-mudahan amal baik-nya mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah swt. Amin ya robbal alamin.

Salam;
Hasan Fauzi
(Ketua DKM)


Selasa, 26 April 2011

Habib Hasan bin Saleh Al-Bahr Al-Jufri

sumber : http://wasiatnasehat.blogspot.com/2009/01/habib-hasan-bin-soleh-al-bahr-al-jufri.html?showComment=1303808235602#c7347833569664307915
Habib Hasan bin Saleh Al-Bahr Al-Jufri
, seorang Ulama besar & Wali termasyhur, dikenal dermawan, ramah dan lemah lembut. Beliau lahir di Khali Rasyid, Hadramaut, pada tahun 1191 H / 1771 M. Sejak berusia dua tahun, beliau telah yatim, ditinggal ayahandanya, Saleh bin Bahr Al-Jufri. Beliau kemudian diasuh oleh ibu dan kakeknya, Sayyid Idrus bin Abu Bakar Al-Jufri di Dzi Ishbah.
Sejak kecil, beliau tinggal di lingkungan yang mencintai ilmu pengetahuan agama dengan semangat beribadah yang kuat. Mula-mula belajar membaca Al-Qur’an kepada syekh Abdurrahman Ba Suud. Kemudian belajar menghafal kitab suci itu dibawah bimbingan Syekh Abdullah bin Saad.
Setelah itu beliau berguru ke sejumlah Ulama, seperti :

• Habib Umar bin Zein bin Smith
• Habib Umar bin Ahmad bin Hasan Al-Haddad
• Habib Alwi binSaggaf bin Muhammad bin Umar Assegaf di Seiwun.

Disana pula akhirnya beliau mendapat jodoh.

Ketika dewasa, beliau berdakwah melalui beberapa majelis taklim keliling di Syibam, kemudian berdakwah di kota-kota lain. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena penduduk Sybam saat itu tengah mengalami kemunduran dan kelalaian. Karena itu, beliau pun terpaksa hijrah dari Syibam menuju Dzi Ishbah.
Di belakang hari beliau dijiluki Al-Bahr ( laut ,maksudnya lautan ilmu ) berkat kedalaman dan keluasan ilmu agamanya. Ketika mengkaji kitab Mukhtasar at-Tuhfah langsung dari pengarangnya, Syekh Ali bin Umar bin Qadhi Bakhsir, beliau banyak mengoreksi beberapa hal, padahal umurnya baru 20 tahun.
Kedalaman ilmu itu juga tampak, ketika Sayyid Abdurrahman bin Sulaiman Al-Ahdal, seorang Mufti dari zabid, memintanya menulis risalah yang menjelaskan sifat shalat kaum Muqarrabin, orang yang selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan sebisa mungkin melaksanakan segala ibadah sunah. Permintaan itu beliau penuhi dalam risalah Shalatul Muqarrabin, yang membuat kagum para ulama dan sufi, terutama di Hijaz ( Arab Saudi )
Sebagai Ulama yang berpegang teguh pada sunah Nabi, beliau selalu berusaha meniti jejak para ulama salaf. Misalnya dengan selalu mengerjakan shalat berjama’ah di Masjid meskipun letaknya jauh dari rumah di pinggiran kota Dzi Ishbah. Atas permintaan penduduk , juga untuk menghemat waktu dan mengurangi kesulitan perjanan, beliau kemudian pindah ke dalam kota.
Semangatnya untuk mengamalkan shalat sunah rawatib, shalat sunah yang dikerjakan secara tetap sebelum dan sesudah shalat fardhu, dan shalat sunah yang lain, memang sangat tinggi. Antara lain dari shalat khusuf (gerhana bulan ), shalat kusuf ( gerhana matahari ), shalat sunah setelah wudhu, shalat duha delapan raka’at, hingga shalat witir 11 rakaat di akhir malam; semuanya beliau kerjakan dengan tekun.
Tentu saja shalat wajib lima waktu selalu beliau kerjakan secara berjama’ah pula. Beliau juga lazim membaca setengah dari jumlah surah Al-Qur’an dalam shalat tahajud. Kadang kala malah khatam dalam shalat tahajud. Kadang kala malah khatam dalam satu raka’at. Ulama yang sangat mengutamakan shalat ini juga sering melakukan puasa Nabi Daud ( sehari puasa sehari tidak ), baik sedang bepergian, sehat ataupun sakit.
Beliau juga sering membaca surah Yasin 40 kali dalam satu majelis dan dalam datu atau dua raka’at shalat. Di antara wirid yang digemarinya adalah membaca surah Al-Ikhlash sebanyak 90.000 kali dalam satu raka’at shalat.
Beliau telah menunaikan ibadah haji lebih dari tujuh kali dan sering melakukan tawaf malam hari sambil membaca Al-qur’an sampai fajar; kadang malah sampai menghatamkannya. Sebagaimana dituturkan Sayyid Ahmad bin Ali Al-Junaid dalam perjalanan dari Mekah ke Madinah pada tahun 1233 H / 1813 M, pada saat puasa, Habib Hasan setiap malam hanya sahur dengan beberapa teguk air, lalu menunaikan shalat tahajud.
Menurut salah seorang anaknya, Abdullah bin Hasan, walaupun sang ayah sedang sakit parah dan hanya bisa terbaring di tempat tidur, ketika waktu shalat sunah yang biasa dilakukannya telah tiba, Habib Hasan bangun, kemudian memukul ke dua pahanya, sambil berkata:

“Bangunlah wahai jiwa yang buruk! Jangan kau halangi aku untuk menunaikan wiridku!”

Beliau lalu mengambil air wudhu untuk shalat sunah sambil memegang Al-Qur’an, usai shalat, beliau terjatuh dan tubuhnya kembali panas.
Meskipun dikenal sebagai ahli ibadah, dengan rendah hati beliau berkata,

“Kekerasan hati dan kelalaian telah mengalahkanku, sehingga tidak tersisa lagi padaku selain tawakal kepada Allah SWT, dan pada sifat-sifatnya yang pengasih dan penyayang. Adapun amalan-amalanku buruk. Jika ada amalku yang baik, itu berkat kemurahan, dan karunia Allah SWT belaka.”

Selain dikenal ahli ibadah, orang mengenalnya pula sebagai pribadi berbudu luhur dan penuh kasih saying terhadap sesame Makhluk. Seperti diceritakan oleh Habib Ahmad bin Ali Al-Junaid, yang menemaninya dalam perjalanan ke Mekah, lalu berziarah ke Makam Rasulullah SAW di Madinah. Dalam perjalanannya ke Madinah, mereka dirampok, tapi Habib Hasan tidak mencegahnya.

“Mengapa Sayyid tidak mencegahnya?”Tanya Habib Ahmad.
“Cobain ini tidak terlalu berat bagiku, kecuali mereka mengambil Al-Qur’an yang kubawa. Ini memang cobaan Allah SWT. Dan cobaan kekasih tidak menyakitkan.”
Jawab Habib Hasan.

Ketika saudara kandung Habib Ahmad Al-Junaid, yaitu Habib Umar Al-Junaid, yang kaya menimggal dunia. Ia berwasiat kepada Habib Ahmad agar memberi uang senilai 500 riyal kepada Habib Hasan. Tapi ketika uang tersebut diserahkan, Habib Hasan justru berkata:
” Ini adalah dosa yang siksanya akan disegerakan.”
Lalu beliau langsung membagi-bagikan uang tersebut kepada orang-orang yang dapat memanfaatkannya demi ketaatan mereka kepada Allah SWT.
Kasih sayangnya tidak hanya kepada orang-orang sekitarnya, tapi juga kepada kepada seekor anjing liar yang banyak mengganggu penduduk kareng sering melahap hewan piaraan. Mendengar pengaduan penduduk, beliau berkata:

”Anjing itu bertingkah demikian karena kalian menelantarkannya dan tidak memberi makan. Bawa kemari anjing itu, lalu berilah makan dia hingga kenyang.”

Habib Hasan sangat menaruh perhatian pada anjing tersebut, dengan menempatkannya dalamsebuah kandang yang bersih dan memberinya makanan. Setiap hari beliau bertanya kepada pembantunya, bagaimana keadaan anjing yang dipeliharanya itu.
Usai menunaikan shalat Jum’at di sebuah masjid di Syibam, Habib Hasan melihat seekor burung kecil jatuh dari sarangnya di atas masjid ke lantai. Beliau pun tak kuasa lagi menahan air matanya. Maka beliau pun lalu minta para jemaah keluar sebentar, agar si induk burung dapat mengambil anaknya dengan leluasa kembali ke sarangnya.
Beliau juga sangat peduli pada faqir miskin. Ketika menikahkan salah seorang putrinya, Habib Hasan melihat kerumunan orang di bawah jendela loteng.
“Siapa yang berkerumun di sana itu ?”tanyanya.
“Mereka faqir miskin yang menantikan sisa-sisa makan malam.”Jawab pembantunya.
Maka beliau segera memerintahkan menjamu nereka, padahal hanya tersedia makanan yang dipersiapkan untuk para tetamu pernikahan.
“Tidak apa-apa, hidangkan saja makanan itu.”Ujarnya.
Habib hasan mendapat gelar Al Jufri, sebagaimana pendahulunya. Tokoh yang pertama mendapat gelar Al Jufri ialah Habib Abu Bakar bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Al Faqih Muqaddam. Julukan itu ada riwayatnya. Ketika masih kecil, beliau disapa oleh sang kakek, Al-Imam Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Maula Dawilah, “Ahlan bil Jufrah”( selamat dating anak kambing kecilku )
Sang kakek memanggil cucunya dengan panggilann anak kambing karena tubuh cucunya yang gendut dan lucu seperti anak kambing yang sehat,. Menurut seorang ahli bahasa, Jufri, itu digunakan karena dahulu kakek mereka menulis buku tentang Jufr dan sering mengulang-ngulang kata Jufri.
Habib Hasan bin Saleh Al-Bahar Al-Jufri wafat pada waktu Duha, hari Rabu, 23 Zulkaidah 1273 H / 1853 M, di Dzi Ishbah. Jenazahnya di makamkan dekat makam ibundanya di tengah Mushola sdi samping rumahnya.
(Dikutip dari Majalah Al-Kisah No.16/tahun III/1-14 agustus 2005)

Sabtu, 26 Februari 2011

Biografi Singkat Penulis Simtud Durar

Habib Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi dilahirkan pada hari Jumaat 24 Syawal 1259H di Qasam, sebuah kota di negeri Hadhramaut Yaman.

Beliau dibesarkan di bawah asuhan dan pengawasan kedua orang tuanya; ayahandanya, Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya; As-Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri, yang pada masa itu terkenal sebagai seorang wanita yang solihah yang amat bijaksana. Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Quran dan berhasil menguasai ilmu-ilmu zahir dan batin sebelum mencapai usia yang biasanya diperlukan untuk itu.

Oleh karenanya, sejak itu, beliau diizinkan oleh para guru dan pendidiknya untuk memberikan ceramah-ceramah dan pengajian-pengajian di hadapan khalayak ramai, sehingga dengan cepat sekali, dia menjadi pusat perhatian dan kekaguman serta memperoleh tempat terhormat di hati setiap orang. Kepadanya diserahkan tampuk kepimpinan tiap majelis ilmu, lembaga pendidikan serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu.

Selanjutnya, beliau melaksanakan tugas-tugas suci yang dipercayakan padanya dengan sebaik-baiknya. Menghidupkan ilmu pengetahuan agama yang sebelumnya banyak dilupakan. Mengumpulkan, mengarahkan dan mendidik para siswa agar menuntut ilmu, di samping membangkitkan semangat mereka dalam mengejar cita-cita yang tinggi dan mulia.Untuk menampung mereka, dibangunnya Masjid Riyadh di kota Seiwun (Hadhramaut), pondok-pondok dan asrama-asrama yang diperlengkapi dengan berbagai sarana untuk memenuhi keperluan mereka, termasuk soal makan-minum, sehingga mereka dapat belajar dengan tenang dan tenteram, bebas dari segala pikiran yang mengganggu, khususnya yang bersangkutan dengan keperluan hidup sehari-hari.

Bimbingan dan asuhan beliau seperti ini telah memberinya hasil kepuasan yang tak terhingga dengan menyaksikan banyak sekali di antara murid-muridnya yang berhasil mencapai apa yang dicitakannya, kemudian meneruskan serta menyiarkan ilmu yang telah mereka peroleh, bukan sahaja di daerah Hadhramaut, tetapi tersebar luas di beberapa negeri lainnya di Afrika dan Asia, termasuk di Indonesia. Di tempat-tempat itu, mereka mendirikan pusat-pusat dakwah dan penyiaran agama, mereka sendiri menjadi perintis dan pejuang yang gigih, sehingga mendapat tempat terhormat dan disegani di kalangan masyarakat setempat.

Pertemuan-pertemuan keagamaan diadakan pada berbagai kesempatan. Lembaga-lembaga pendidikan dan majlis-majlis ilmu didirikan di banyak tempat, sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan dalam ruang lingkup yang luas sekali. Di antara putera-putera beliau yang dikenal di Indonesia ialah puteranya yang bungsu; Al-Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, pendiri Masjid Riyadh di kota Solo (Surakarta). Dia dikenal sebagai peribadi yang amat luhur budi pekertinya, lemah-lembut, sopan-santun, serta ramah-tamah terhadap siapa pun terutama kaum yang lemah, fakir miskin, yatim piatu dan sebagainya. Rumah kediamannya selalu terbuka bagi para tamu dari berbagai golongan dan tidak pernah sepi dari pengajian dan pertemuan-pertemuan keagamaan. Beliau meninggal dunia di kota Palembang pada tanggal 20 Rabiulawal 1373H dan dimakamkan di kota Surakarta.

Banyak sekali ucapan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi yang telah dicatat dan dibukukan, di samping tulisan-tulisannya yang berupa pesan-pesan ataupun surat-menyurat dengan para ulama di masa hidupnya, juga dengan keluarga dan sanak kerabat, kawan-kawan serta murid-murid beliau, yang semuanya itu merupakan perbendaharaan ilmu dan hikmah yang tiada habisnya.

Dan di antara karangan beliau yang sangat terkenal dan dibaca pada berbagai kesempatan di mana-mana, termasuk di kota-kota di Indonesia, ialah risalah kecil ini yang berisi kisah Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dan diberinya judul Simtud Duror Fi Akhbar Maulid Khairil Basyar wa Ma Lahu min Akhlaq wa Aushaf wa Siyar (Untaian Mutiara Kisah Kelahiran Manusia Utama; Akhlak, Sifat dan Riwayat Hidupnya).

Habib Ali Al-Habsyi meninggal dunia di kota Seiwun, Hadhramaut, pada hari Ahad 20 Rabiulakhir 1333H dan meninggalkan beberapa orang putera yang telah memperoleh pendidikan sebaik-baiknya dari beliau sendiri, yang meneruskan cita-cita beliau dalam berdakwah dan menyiarkan agama.
Dipetik dari : Untaian Mutiara Terjemahan Simtud Duror oleh Habib Anis bin Alwi bin Ali Al-Habsyi

Jika riwayat hidup kaum arifin dibacakan kepada orang yang beriman, maka imannya kepada Allah akan semakin kokoh. Sebab,kehidupan mereka merupakan cerminan dari kitabullah yang didalamnya terkandung ilmu orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian, atau refleksi dari Hadist Rosulullah SAW, atau dari pengetahuan yang ia terima langsung dari Nabi SAW
(Habib Ali bin Muhammad Al Habsy)

MASUK KOTA REOG

Pembacaan kitab maulid Simtud Duror sudah berjalan lama di Indonesia, terutama di kota Solo, kemduian Habib Musthofa bin Muhammd bin Thohir Ba’bud dari Kediri menyebarkan di daerah Kismantoro Wonogiri 15 tahun silam. Sedangkan beliau mengenalkan maulid ini di kota Reog Ponorogo baru sekitar 4 - 5 tahun yang lalu.

sejarah lengkap habib Ali Al-Habsyi bisa dibaca di Biografinya terbitan Pustaka Zawiyah dengan harga Rp 27.000,- (albaroni/2009)

Sumber : http://simtuddurorponorogo.wordpress.com/profile/#comment-37

Senin, 14 Februari 2011

Apa Ahlussunnah Wal Jama’ah

sumber : http://www.habaib.org/artikel/4-apa-ahlussunnah-wal-jamaah-

Ahlusunnah wal jama’ah adalah salah satu jalan pendekatan diri kepada Allah SWT yang perpegang kepada 4 (empat) :

1. Al-Qur’an
2. Hadits
3. Ijma’
4. Qiyas
Arti Ahlussunnah wal jama’ah itu sendiri diambil dari Hadits Rasulullah SAW yang beliau sabdakan :

Islam akan menjadi terbagi menjadi 73 golongan, satu golongan yang masuk surga tanpa di hisab, sahabat berkata : siapakah golongan tersebut ya Rasulullah ?, Nabi bersabda : Ahlussunnah wal jama’ah.

Yang kita tanyakan, apa itu Ahlussunnah wal jama’ah ?

Semua golongan mengaku dirinya Ahlussunnah tetapi sebenarnya mereka bukan Ahlussunnah wal jama’ah karena banyak hal-hal yang mereka langgar yang mereka jalankan di dalam ajaran agama Islam, tetapi tetap mereka mengakui diri mereka yang benar. Sebenarnya kita harus mengetahui apa yang kita pelajari di dalam agama Islam atau yang kita amalkan di dalam Islam maka kita akan mengetahui kebenarannya di dalam ajaran Ahlussunnah wal jama’ah. Allah SWT telah mengucapkan di dalam surat Al Fatihah pada ayat yang 5 dan ayat yang ke 6, Allah SWT mengucapkan di dalam ayat yang ke 5 jalan yang lurus dan pada ayat yang ke 6 jalan-jalan mereka, yang kita tanyakan siapa mereka-mereka itu ?

Ulama Ahlussunnah wal jama’ah mereka bersepakat :

Mereka adalah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat-sahabatnya
Penerus sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW yang dinamakan Tabi’in
Tabi’-tabi’in adalah pengikut yang mengikuti orang yang belajar kepada sahabat Rasulullah SAW.
Dan para ulama sholihin.

Yang ditanyakan siapa mereka para ulama sholihin itu ?

Ulama sholihin adalah ulama-ulama yang mengikuti jejak mereka di atas yang 3 dan ulama ini sangat banyak sekali di muka bumi maka mereka menamai dirinya atau golongannya dengan nama Ahlussunnah wal jama’ah .

Apa yang mereka ajarkan ?

Kita akan mengenalkan mereka dengan kitab-kitabnya yang telah tersebar luas di dunia seperti Imam Ghozali, Imam Syafi’i, Imam Hambali, Imam Hanafi, Imam Maliki dan banyak daripada itu pula dari keturunan Rasulullah SAW yang menamai julukan mereka habaib atau habib, diantara mereka adalah Al habib Abdullah Bin Alwi Al Haddad yang satu diantara karangannya adalah Nashoihuddiyyah dan banyak lagi yang lainnya.

Cara-cara mereka akan lebih dekat kita kenal dengan amalan-amalan mereka yang sering kita dapati di tiap-tiap wilayah diantaranya mereka mendirikan perkumpulan dengan pembacaan sejarah Nabi Muhammad SAW yang dinamakan dengan Maulid dan pembacaan Do`a Qunut, Tahlil, Ratib, Ziarah Kubur, Pengadaan Haul para Aulia, Ini diantara amalan-amalan Ahli Sunah Wal Jama`ah.

Maka jika dijelaskan sangat panjang, silahkan anda membaca kitab/buku-buku yang dikarang oleh mereka dari karangan-karangan yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits-hadits Rasulullah SAW, kita akan mengetahui kebenaran ilmu mereka maka kita harus prihatin di zaman ini banyak sekali golongan-golongan yang akan menyesatkan umat manusia karena kebodohan dan kurangnya pengertian jalan yang mereka ikuti sehingga mereka terjerumus kedalam jalan golongan-golongan yang sesat, maka berhati-hatilah membawa diri kita dan keluarga kita agar kita tidak terjerumus kedalam golongan yang tidak ada jaminan dari Rasulullah SAW.

sumber dikirim oleh : Majlis Ta`lim Nurul Musthofa